Earned Value, Planned Value, dan Actual Cost : Tagihan (Bagian II)

Ir.Dosohusodo Widjojo, MM., IPM.

Mengendalikan Biaya Proyek

Dengan bekal ilmu Manajemen ‘Earned Value’, kami mencoba mengendalikan biaya proyek untuk membangun 10 (sepuluh) buah Rumah Penginapan dalam waktu 12 (duabelas) bulan, dengan total anggaran konstruksi, untuk 10 rumah penginapan, Rp1.000 milyar.

Setalah proyek berjalan selama 5 bulan, kami memantau situasi dan kondisi proyek. Pertama, kami minta penjelasan dari Engineers tentang rencana anggaran yang dikeluarkan sampai pada bulan ke lima, dan mendapatkan penjelasan bahwa Planned Value (PV):  Rp 360 milyar . Kedua, kami minta penjelasan dari Akunting tentang anggaran yang dikeluarkan untuk belanja sampai pada bulan ke lima, dan mendapatkan penjelasan: Actual Cost (AC) sebesar Rp 310 milyar

Terakhir,  kami minta penjelasan dari Kepala Proyek tentang pencapaian, atau tagihan yang bisa diuangkan sampai pada bulan ke lima, dan mendapatkan penjelasan bahwa

Earned Value (EV) sebesar Rp  250 milyar.

Setelah dibandingkan, kami mendapatkan angka-angka yang berlainan dari ketiga data diatas (Rencana, Belanja dan Tagihan). Pertanyaan demi pertanyaan kemudian timbul.

  1. Apakah yang terjadi selama ini di proyek kami?
  2. Apakah proyek ini terlalu boros atau terlalu hemat biayanya?
  3. Apakah proyek ini terlambat atau terlalu cepat schedule-nya?
  4. Apakah proyek dapat selesai tepat waktu dan tepat biaya?
  5. Kalau proyek boros biaya, berapa banyak lagi biaya akan dikeluarkan sampai proyek selesai?

Kami tidak bisa menjawabnya, sampai kami menganalisa kondisi perkembangan proyek memakai ‘Manajemen Earned Value’(EV) sebagai berikut:

Progres EV:

Rumah Penginapan no 1 = 40% Rumah Penginapan no 6 = 20%
Rumah Penginapan no 2 = 30% Rumah Penginapan no 7 = 20%
Rumah Penginapan no 3 = 50%

Rumah Penginapan no 4 = 50%

Rumah Penginapan no 8 = 10%

Rumah Penginapan no 9 = 10%

Rumah Penginapan no 5 = 10% Rumah Penginapan no 10 = 10%
Rata-rata =    250 % / 10         = 25%

 Variances pada bulan ke lima

Cost Variance (CV) =  EV-AC   = 25 – 31 =  – 6. Boros biaya, menjawab pertanyaan ke 2 di atas.  Kemudian Schedule Variance (SV) =  EV-PV  = 25 – 3 =  – 11. Terlambat dari jadwal, menjawab pertanyaan ke tiga

Indeks pada bulan ke lima

Cost Performance Index (CPI) =  EV/AC = 25 / 31= 0,806. Boros biaya, menjawab pertanyaan ke dua.  Schedule Performance Index   (SPI) =  EV/PV = 25 / 36= 0,694. Terlambat dari jadwal, menjawab pertanyaan ke tiga.

Estimation at Completion (EAC):

Beberapa alternatif digunakan untuk menjawab pertanyaan ke lima.

Alternatif 1 :

EAC = Actual + Remaining Budget = 310 + (1000 – 250) = 1,060 M

Alternatif 2 :

EAC = Actual + New Estimate for Remaining Budget =  310 + 800 (estimasi) = 1,110 M

Alternatif 3 :

EAC = Actual + Remaining Budget/CPI = 310 + (750/0.806) = 1,240 M.

Alternatif 4  (Skenario terburuk)

EAC = Actual + Remaining/CPI/SPI = 310 + (750/0.806):0.694 = 310 + 1,341

= 1,651 M.

Dari hasil perhitungan di atas, dipilih lah alternatif 4 dengan memakai angka CPI dan SPI sebagai faktor pembagi untuk  mendapatkan Estimasi Biaya yang diperlukan untuk membangun penginapan sampai akhir proyek (EAC) sebesar Rp. 1,651 M.***

baca juga

ingin komentar

Comment