Earned Value, Planned Value, dan Actual Cost : Tagihan (Bagian I)

Image preview

Ir.Dosohusodo Widjojo, MM., IPM.

Kami tinggal disuatu kampung sangat sederhana, 3 km disebelah barat Bandara International Soekarno Hatta (Soetta), Tangerang. Kampung sederhana yang berkembang seiring dengan perluasan infrastruktur dan pembangunan Bandara Soetta Terminal 3 Ultimate.

Bulan September 2013, selepas pensiun dini dari suatu perusahaan Konsultan Manajemen Proyek, kami (saya dan istri) mewujudkan rencana menjalankan usaha sendiri, kalau tidak boleh disebut menjalankan usaha “ekonomi kreatif” dibidang seni dan budaya.  Kami menjalankan rencana membangun suatu penginapan kelas sederhana untuk  para penumpang pesawat-udara yang di-‘delay’ atau transit dan butuh sekadar tempat istirahat semalam kemudian melanjutkan perjalanan esok hari dari bandara Soetta. Rencana selanjutnya menjual “property” tersebut kepada para investor.

Kami menyiapkan dana yang cukup sesuai rencana, menyiapkan seorang  Kepala Proyek yang berpengalaman untuk memimpin proyek, menyiapkan tim Akunting yang mencatat  keluar-masuk dana, menyiapkan insinyur untuk merencanakan segala sesuatu tentang proyek gedung Penginapan.

Kami merencanakan membangun 10 unit penginapan dalam waktu satu tahun. Lalu kami menawarkan ‘property’ tersebut pada Investor yang berminat untuk membelinya. Singkat kata kami memulai proyek tersebut dan mengawasi perkembangan proyek, waktu demi waktu. Dana kami belanjakan sedikit demi sedikit, sementara waktu terus berjalan tanpa bisa dihambat. Bertahap pula kami menawarkan ‘property’ tersebut pada para investor yang berminat, kami laporkan kemajuan bulanan kepada investor, dan kami kirim tagihan bulanan kepadanya. Lumayan, ada uang tagihan masuk.

Sampailah pada suatu situasi, kondisi, keadaan dimana kami harus ketat dalam pengeluaran dana dan ketat dalam waktu, karena investor ingin juga selesai sesuai jadwal.

Teringat saat bekerja di perusahaan Konsultan Manajemen Proyek, tentang apa yang disebut Manajemen ‘Earned Value’; suatu kombinasi Kendali Biaya dan Kendali Jadwal Proyek, yang berguna untuk mengetahui Perkiraan Sisa Biaya proyek yang dibutuhkan sampai proyek selesai.

Kepala Proyek  mengukur kinerja proyek dan kemajuan proyek dengan  prinsip MEV

dengan cara memakai kunci tiga-dimensi sebagai berikut:

Planned value. Planned value (PV) merupakan rencana-anggaran yang telah disetujui bersama untuk jadwal tertentu, untuk menyelesaikan pekerjaan yang ada pada “Work Breakdown Structure” (WBS). Anggaran ini dialokasikan bertahap sepanjang siklus proyek. Bagian Planning Engineer selalu memonitor PV ini.

Earned value. Earned value (EV) mengukur kerja yang telah dicapai sesuai anggaran yang telah disetujui, dapat berwujud tagihan yang diperoleh sesuai dengan progres pekerjaan yang telah diselesaikan. Kepala Proyek memonitor EV secara periodik (bulanan) untuk menentukan status kemjuan saat itu.

 Actual cost. Actual cost (AC) merupakan biaya-aktual yang telah dibelanjakan untuk menyelesaikan proyek pada periode waktu tertentu. Tim Akunting selalu memonitor AC ini.

Bakuan Variance

Schedule variance. Schedule variance (SV) mengukur kinerja schedule (jadwal) yang dinyatakan dengan selisih antara Earned Value dan Planned Value. Variance berguna untuk mengindikasikan proyek berada pada status jadwal terlambat atau terlalu cepat dibanding bakuan (baseline) jadwal.  Persamaan yang digunakan: SV = EV – PV.

Cost variance. Cost variance (CV) merupakan selisih anggaran (rugi atau untung)  pada suatu waktu tertentu, dinyatakan dalam selisih antara Earned Value dan Actual Cost. Cost Variance berguna untuk menentukan status proyek. Persamaan : CV= EV − AC.

Indeks Perbandingan

Schedule performance index. Schedule performance index (SPI) merupakan pengukuran  efisiensi schedule dinyatakan dalam perbandingan antara Earned Value dengan Planned Value. SPI mengukur seberapa efisien tim proyek dalam memanfaatkan waktunya. SPI  kadang dipakai bersamaan dengan ‘Cost Performance Index’ (CPI) untuk meramalkan Estimasi Biaya yang akan dibutuhkan pada status akhir proyek.

Jika besaran SPI kurang dari 1.0, maka artinya pekerjaan yang diselesaikan lebih sedikit dibanding  dengan yang direncanakan. Artinya: buruk.  Jika SPI lebih besar dari 1.0, maka artinya pekerjaan yang diselesaikan lebih banyak dibanding dengan yang direncanakan. Artinya: bagus. Persamaan: SPI = EV/PV.

Cost performance index. Cost performance index (CPI) mengukur efisiensi biaya terhadap sumberdaya keuangan yang telah dianggarkan, dinyatakan dalam perbandingan  antara Earned Value dan Actual Cost.

Jika besaran CPI kurang dari 1.0, maka artinya biaya yang dibelanjakan terlalu besar, untuk pekerjaan yang telah diselesaikan. Artinya: buruk.  Jika besaran CPI lebih besar dari 1.0, maka artinya  biaya yang dibelanjakan lebih kecil,  untuk pekerjaan yang telah diselesaikan. Artinya: bagus.  CPI berguna untuk menentukan status proyek dan merupakan dasar untuk Estimasi Biaya proyek pada akhir schedule proyek. Persamaan: CPI = EV/AC.

Tiga parameter: Planned Value, Earned Value, dan Actual Cost dapat dimonitor dan dilaporkan secara bulanan atau mingguan dan secara kumulatif.***

Gambar: Earned Value, Planned Value, dan Actual Cost

baca juga

ingin komentar

Comment