Diskusi EOR-3 BKK PII – IATMI : 44 Tahun Lalu, RI Produksi Minyak 1,6 Juta Barel

JAKARTA – Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Badan Kejuruan Kimia Persatuan Insinyur Indonesia (BKKPII) bekerja sama dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), PT Pertamina menggelar diskusi panel Enhanced Oil Recovery (EOR).

Ketua BKKPII, Nanang Untung, mengatakan panel diskusi EOR ini merupakan rangkaian program konvensi insinyur kimia Indonesia pada 2014, dan khusus EOR ini adalah salah satu upaya dalam mencapai kemandirian energi nasional.?

“Teknologi EOR ini upaya untuk meningkatkan lapangan yang sudah tua. Dengan teknologi ini, diharapkan lifting minyak mentah (crude) meningkat dan dapat mencapai lebih 1 juta barel per hari (bph),” ungkap Nanang dalam acara Partisipasi Industri Kimia Nasional dalam Mendukung Era EOR untuk Ketahanan Energi di Kantor Pertamina Pusat, Jakarta, Kamis (13/2/2014).

“Sehingga dapat maksimalkan pengolahan minyak di kilang Indonesia dengan kapasitas 1,1 juta bph,” tambah dia.

[complete_gallery id=”379″ ]>Menurut Nanang, dalam diskusi BKKPII-IATMI sebelumnya menghasilkan beberapa poin, diantaranya Indonesia pernah berproduksi minyak sebesar 1,6 juta barel di periode 1970an.

“Cadangan dengan metode recovery tersisa 10 tahun. Lalu keuangan negara menerima beban besar impor minyak mentah. Pemerintah dan rakyat memerlukan seluruh kemampuan insinyur perminyakan, untuk bagaimana dapat mengangkat minyak,” sambungnya.

Nanang menambahkan, selain itu masih diperlukannya kerjasama pemerintah, SKK Migas, KKKS, Pertamina, lembaga riset dan universitas, akademisi, bisnis, dan government (ABG) agar bisa terjalin dengan lebih baik.?

Menurut Nanang, secara umum lapangan yang sudah masuk secondary dan tersier harus dengan teknologi EOR pada masing-masing lapangan tersebut. “Diperlukan riset untuk tingkatkan lifting minyak bumi. Terdapat metode EOR namun faktor biaya menjadi pertimbangan,” paparnya.

Nanang berharap, dalam diskusi ini stakeholder dapat mendorong aplikasi EOR secara benar, sekaligus menjadi driving force. “Umur kondisi lapangan minyak dapat bertambah. Keuangan negara dapat ditekan. EOR bisa diterapkan dalam waktu tidak lama lagi,” pungkasnya. (mrt) – Sumber: Okezone.com

baca juga

ingin komentar

Comment