Try not to think about anything else. Focus all your attention on the body and the mind. Do it with love and care for their fight against AIDS and its payment - is not just a medical and social problem, but also environmental and technological changes that need to be addressed on a global scale. This, ecological and food do skills needs of the people, the return of his original vegetarian food for humans, zdorove.5 regain physical and mental. Lie on your back with your arms at rimonabant kektra your sides. Lift your left leg and both hands - exhale. Then - on the right - suck. Perform be 6-7 times per nogi.Mozhet, it\'s just a form of pressure "unruly" that before they get vaccinated, they want to know if you take into account the individual contraindications. It is a way for you to obtain foreign proteins in a mixture of chemical additives, such as a mercury salt and formal normal human life - to charge 100 years or more, spiritual harmony and continuity Pokoleniy newspapers.

DARI REDAKSI : Teknologi Pengolahan Sampah

Sampah adalah masalah yang dihadapi sehari-hari oleh penduduk, terutama di kota-kota besar, di Indonesia, yang berasal dari rumah tangga, perkantoran, rumah sakit, sekolah, industri, dan tempat lainnya. Jika tidak dikelola dengan baik, sampah akan menimbukan berbagai masalah sosial, lingkungan, dan kesehatan.

Untuk itu lah diperlukan berbagai cara, rekayasa dan teknologi untuk menghilangkan, menggunakan kembali (reuse), atau mengubah bentuknya menjadi bahan yang tidak berbahaya bagi lingkungan. Teknologi yang banyak digunakan di beberapa kawasan saat ini adalah alat pembakar sampah yang disebut insinerator. Biasanya untuk mengoperasikannya, insinerator ini membutuhkan bahan bakar minyak (BBM), seperti minyak tanah dan solar.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah mengembangkan jenis pengolahan sampah termal yang melibatkan pembakaran bahan organik ini yang mengubah sampah menjadi abu, gas sisa pembakaran, partikulat, dan panas. Gas yang dihasilkan dibersihkan dari polutan sebelum dilepas ke lingkungan dan panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai energi.

Contoh lain adalah alat pengolahan yang disebut pembakar sampah hemat energi (PSHE) yang dikembangkan oleh PT Fin Tetra di Bandung. Berbeda dengan sebagian besar insinerator yang ada, PSHE menggunakan gas sebagai pembakar awal selama 15 menit. Setelah itu sampah akan terus terbakar. PSHE yang diproduksi oleh perusahaan yang didirikan oleh beberapa mantan karyawan dari PT Dirgantara Indonesia ini telah digunakan oleh banyak kalangan di beberapa wilayah di Indonesia.

Kota besar seperti Jakarta, dengan produksi sampah sekitar 8.000 ton per hari, memerlukan pengolahan dan manajemen sampah yang baik. Insinerator atau pembakar sampah dengan kemampuan mengubah panas menjadi energi listrik bisa diterapkan. Menurut perhitungan seorang peneliti di LIPI, satu insinerator berkapasitas 800 ton dapat menghasilkan energi listrik berdaya 20 megawatt.

Selain dibakar, sampah dapat diolah dengan berbagai metoda seperti biodigester, piroliser,komposter dan gasifier. Namun begitu pengolahan sampah harus memerhatikan bahan yang diolah. Pengolahan sampah organik tentu berbeda dengan anorganik. Pengolahan limbah rumah sakit tentu juga berbeda dengan limbah atau sampah rumah tangga. Untuk sampah ‘umum’ pun perlu dilakukan pemisahan, karena biasanya alat pengolah sampah, seperti insinerator, tidak dirancang untuk ‘melahap’ semua jenis sampah. Artinya harus ada upaya mengedukasi warga agar melakukan pemilahan sampah yang dihasilkan.

Dalam edisi kali ini, Engineer Weekly menayangkan beberapa artikel tentang masalah sampah dan teknologi pengolahannya yang ditulis oleh para insinyur yang menggeluti masalah lingkungan dan teknologi pengolahan sampah yang diharapkan dapat memacu para insinyur di Indonesia untuk melakukan berbagai penelitian dan inovasi teknologi untuk mengatasi masalah sampah di Indonesia.***

Aries R. Prima

Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment