DARI REDAKSI : SDM, Teknologi dan Kesejahteraan Bangsa

Sejarah telah membuktikan bahwa kemampuan dan penguasaan teknologi dapat mewujudkan kesejahteraan sebuah bangsa. Sebut saja Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Jepang dan Korea Selatan. Tidak bisa dimungkiri bahwa kemajuan dan kemakmuran negara-negara itu dicapai dengan kemajuan teknologi.

Samuelson (1998) menuliskan bahwa teknologi adalah salah satu faktor untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, baik untuk negara industri maju (NIM) maupun negara sedang berkembang (NSB), yang berkaitan erat dengan faktor lainnya, yaitu sumberdaya manusia (SDM), sumberdaya alam (SDA) dan pembentukan modal.

Kemajuan teknologi biasanya ditandai dengan adanya perubahan proses produksi, adanya produk baru dan peningkatan besarnya output dengan menggunakan input yang sama atau yang lebih sedikit. Saat ini laju kemajuan ini semakin pesat dengan semakin majunya pengembangan elektronika, komputer dan berbagai perangkat lunaknya, yang ditandai dengan semakin meningkatnya jumlah hak paten.

Banyak pemerhati ekonomi mengatakan bahwa hanya dengan kemampuan melakukan inovasi dalam bidang teknologilah sebuah bangsa/negara bisa lolos dari jebakan negara berpenghasilan menengah (middle income trap) untuk melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi. Contohnya adalah Korea Selatan yang sejak 1980an menggenjot sumberdaya manusianya untuk menguasai teknologi, dengan mengutamakan pendidikan di bidang sains, teknik, teknologi dan matematika. Kini, Korea Selatan adalah salah satu negara di dunia yang sangat maju dalam penguasaan teknologi, terutama teknologi informasi dan komunikasi.

Negara serumpun, Malaysia, kini juga telah berancang-ancang untuk masuk ke dalam jajaran negara maju berpenghasilan tinggi. Sama dengan Korea Selatan, negeri jiran ini juga telah berhasil membangun SDM di bidang STEM (science, technology, engineering and mathematics) sebagai modal untuk meningkatkan penguasaan teknologi. Bahkan sains dan teknologi termasuk dalam Dasa-dasar pembangunan ekonomi dan sosialnya.

Berdasarkan indikator ekonomi dan daya saing, posisi Malaysia, saat ini, jauh lebih baik dari Indonesia. Padahal di tahun 1970an Malaysia banyak mengirimkan mahasiswanya untuk belajar STEM di IPB, ITB, UGM dan UI. Dan banyak pengajar-pengajar terbaik Indonesia, hingga kini, mengajar di berbagai perguruan tinggi di Malaysia.

Dari teladan 2 negara itu kita bisa melihat keberpihakan yang nyata untuk pengembangan teknologi yang didorong oleh tujuan yang terukur dari waktu ke waktu. Tanpa keberpihakan negara, rasanya sulit untuk menyiapkan SDM di bidang STEM yang dibutuhkan untuk menghasilkan keunggulan teknologi yang akan meningkatkan tingkat produktivitas dan akhirnya memacu pertumbuhan ekonomi.

Banyak hal yang harus dipersiapkan bersamaan dengan pengembangan SDM, seperti suasana dan anggaran penelitian, meningkatkan kemampuan inovasi, dan keberpihakan pemerintah untuk menggunakan teknologi nasional. Hasil penelitian di berbagai industri mengungkapkan bahwa kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang, dalam bahasa Inggris popular dengan istilah research and development/R & D) berdampak positif terhadap kenaikan tingkat produktivitas. Kegiatan litbang akan menghasilkan berbagai inovasi teknologi yang dibutuhkan.

Di Industri manufaktur, menurut data Bank Indonesia, lebih dari 90 persen teknologi yang digunakan adalah teknologi dari luar negeri (lisensi), sehingga para insinyur Indonesia yang bekerja di bidang ini hanya berfungsi sebagai operator, bukan melakukan perancangan sesuai fungsi profesi sebenarnya. Maka inilah mungkin yang menyebabkan renumerasi yang diterima insinyur di Indonesia masih rendah dibandingkan koleganya di negara maju. Bahkan dibandingkan profesi lainnya di Indonesia.

Inilah salah satu tantangan bangsa Indonesia saat ini: menciptakan berbagai inovasi baru atau pengembangan inovasi dari teknologi yang sudah ada yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tanah air di bidang manufaktur.

Namun, Indonesia masih punya beberapa kabar baik. Banyak insinyur dan perusahaan di bidang keinsinyuran telah menciptakan berbagai inovasi teknologi yang diharapkan terus berkembang dan memacu pihak lain untuk melakukan hal yang sama. Bahkan beberapa hasil karya insinyur Indonesia telah digunakan oleh negara lain untuk membangun.

Menyiapkan SDM dan kemudian menciptakan inovasi teknologi untuk menyejahterakan bukanlah pekerjaan mudah dan instan. Membutuhkan perencanaan dan eksekusi yang matang, serta dukungan semua pihak, termasuk pemerintah. Tapi itu harus dilakukan agar kita tidak tertinggal dari negara lain dan hanya menjadi konsumen teknologi negara lain.***

Aries R. Prima
Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment