DARI REDAKSI : Riset dan Peran Strategis Pertumbuhan Ekonomi

Setidaknya ada 701 hasil penelitian (riest), dengan total anggaran 1,8 triliun rupiah, yang mangkrak di sejumlah perpustakaan dan menjadi “barang mati”. Fakta tersebut dinyatakan oleh Muhammad Nasir, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) ketika menghadiri peluncuran Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Semarang pada akhir Mei lalu.

Guru Besar Universitas Diponegoro itu pun mengatakan bahwa akibat belum direalisasikannya hasil penelitian tersebut, masyarakat tidak bisa menikmati manfaatnya. Ia berharap hasil riset dapat dipromosikan hingga masyarakat paham riset apa saja yang telah dilakukan serta dihilirisasi menjadi sebuah produk inovasi. “Mulai Juni ini, beberapa riset inovasi akan diproduksi. Enzim untuk penyamakkan kulit dan juga garam farmasi, yang selama ini diimpor akan diproduksi,” katanya. Ia juga menambahkan bahwa banyak hasil penelitian yang dilakukan sebenarnya bisa diaplikasikan, seperti penelitian pangan dan pertanian, kesehatan, transportasi, teknologi informasi, nano teknologi, teknologi pertahanan, serta energi.

Penelitian atau riset adalah salah satu instrumen penting untuk menciptakan inovasi dan mengembangkan teknologi. Dengan kemampuan dan kemandirian teknologi, Indonesia akan melepaskan diri dari ketergantungan terhadap teknologi asing, sekaligus akan terhindar dari middle income trap dan melesat menjadi negara maju. Artinya riset berperan dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Tidak bisa dimungkiri bahwa kegiatan riset di Indonesia masih menghadapi banyak kendala. Seperti bantuan dana riset yang tidak mencukupi, iklim akademik yang masih kurang mendukung, hasil riset yang tidak “membumi”, serta hasil penelitian belum menjadi sistem pembelajaran. Hingga saat ini anggaran riset Indonesia kurang dari 0,1 persen PDB (produk domestik bruto), masih tertinggal jauh dari beberaa negara ASEAN lain, seperti Thailand (0,25 persen), Malaysia (1 persen), dan Singapura (2,6 persen). Menurut M. Nasir, idealnya anggaran penelitian itu sebesar 1 persen dari PDB. Sedangkan UNESCO merekomendasikan angka 2 persen.

Selain itu, hasil penelitian yang belum sesuai dengan kebutuhan industri dan belum dirasakan manfaatnya oleh masyarakat juga masih menjadi tantangan yang besar bagi para peneliti dan lembaga penelitian. Hasil penelitian yang mangkrak tersebut bisa jadi karena, sebagian, tidak bisa digunakan oleh kalangan industri dan masyarakat.

Berbagai upaya sedang dan akan segera dilakukan. Agar hasil penelitian dapat bermanfaat langsung bagi masyarakat, pemerintah pusat menggandeng pemerintah daerah untuk “membumikan” hasil-hasil penelitian melalui berbagai inovasi dan pengembangan teknologinya. Di lain pihak, pemerintah juga akan menggandeng kalangan industri agar penelitian yang dilakukan dapat disesuaikan dengan kebutuhan industri atau dunia usaha, serta mendorong pihak swasta untuk melakukan penelitian mandiri. Jika semua sinergi ini berhasil dilakukan dengan baik, niscaya Indonesia akan melesat menjadi salah satu negara maju seperti yang dicita-citakan.***

Aries R. Prima

Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment