DARI REDAKSI Pertambangan: Peran dan Tantangan

Indonesia adalah salah satu negara di dunia yang kaya akan barang-barang tambang, seperti batu bara, nikel, bauksit, minyak, gas bumi, dan emas.  Sudah banyak orang mahfum bahwa jika tidak dikelola dengan baik, sumberdaya alam ini justru akan menjadi kutukan, daripada berkah.

Hasil pertambangan, terutama minyak dan batubara, pernah menjadi penyumbang devisa yang besar di negeri ini. Namun akhir-akhir ini perannya semakin merosot. Bahkan, saat ini, Indonesia tidak lagi tergabung dalam organisasi negara-negara pengekspor minyak bumi.

Saat ini, batubara dan gas alam, berperan penting dalam penerimaan devisa negara, sekaligus juga memengaruhi kehidupan bangsa Indonesia sebagai sumber energi. Beberapa tahun lalu harga batubara sempat meroket karena kebutuhan yang meningkat, baik untuk keperluan nasional maupun internasional. Begitu juga kebutuhan akan barang tambang mineral, seperti nikel. Tentu saja hal ini sudah sangat menguntungkan Indonesia.

Namun, peningkatan pendapatan yang lebih tinggi bisa dicapai jika ada peningkatan kegiatan ekonomi pada rantai produksi bahan tambang, seperti batubara dan mineral. Untuk itu diperlukan berbagai fasilitas pemurnian dan pengolahannya untuk meningkatkan nilai tambah, yang kemudian dikuatkan oleh Peraturan Menteri ESDM RI No. 07 tahun 2012 tentang Peningkatan Nilai Tambah Mineral Melalui Kegiatan Pengolahan dan Pemurnian Mineral.

Pengendalian ekspor bahan mentah minerba, yang terkandung dalam peraturan tersebut, memiliki semangat untuk meningkatkan perekonomian nasional. Kebijakan yang dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah untuk menyejahterakan bangsa Indonesia,  akan menjadi merugikan jika tidak dipersiapkan dengan matang, terutama kesiapan infrastrukturnya.

Pro dan kontra di kalangan pemangku kepentingan pasti akan selalu ada dalam setiap kebijakan yang  diambil, termasuk kebijakan larangan ekspor minerba mentah. Kalangan yang pro kebijakan berargumentasi bahwa industri nasional masih perlu mendapat ketersediaan bahan baku dalam jumlah yang mencukupi dan harga yang wajar. Di samping itu ekspor minerba dalam bentuk mentah tidak memberikan nilai tambah yang berarti terhadap penerimaan negara.

Sedangkan pihak yang kontra berpendapat bahwa industri dalam negeri belum mampu menyerap seluruh hasil pertambangan minerba, baik karena masih minimnya fasilitas peleburan dan pemurnian (smelter) ataupun fasilitas lainnya di pengolahan di hilir. Mereka berpendapat bahwa ekspor bahan mentah masih menjadi solusi saat ini.

Untuk menemukan lebih dalam tentang peran dan masalah-masalah yang ada, Engineer Weekly di awal Juni 2016 ini akan menayangkan berbagai artikel yang berkaitan dengan bidang pertambangan yang ditulis oleh para kontributor yang berpengalaman luas di kegiatan yang kerap dituding tidak ramah lingkungan ini. Selamat membaca.

 

Aries R. Prima

Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment