DARI REDAKSI : “Musik: Dari Teknik Akustik Hingga Elektronika dan Informatika”

Bicara tentang musik bagaikan menjelajahi dunia tersendiri. Sangat luas dan tidak pernah selesai. Musik juga adalah satu jenis seni yang mungkin paling banyak diapresiasi oleh warga dunia, dan terus bergerak berkat kemajuan teknologi yang memengaruhi perkembangan alat-alat musik, pemutar musik, proses dan industri perekaman, studio musik, hingga bisnis pertunjukan musik. Saat ini, musik tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, namun digunakan juga dalam bidang kesehatan.

Alat-alat musik pertama di dunia menggunakan teknik akustik sederhana untuk menghasilkan suara, seperti banyak jenis gendang dan suling. Teknik akustik ini masih digunakan untuk membuat alat-alat musik di jaman modern, karena masih banyak orang yang menggemari suara alami perangkat akustik ini, baik sebagai pemain atau pun pendengar. Bahkan ruang pertunjukan musik klasik didesain khusus agar mampu memantulkan suara dengan sempurna dari perangkat akustik dan suara manusia di dalamnya, tanpa bantuan alat elektronik.

Untuk menghasilkan nada yang tepat pada alat musik berdawai, perlu perhitungan luasan rongga suara, panjang senar, ketebalan dan jenis bahan untuk membuatnya. Abu Nasr Alfarabi (961 M), yang juga dikenal dengan nama Alpanabius, menghasilkan perhitungan atau rumus untuk menentukan panjangnya senar pada alat musik Qanun, yang merupakan cikal bakal piano yang dikenal luas saat ini.

Teknologi hammer action yang digunakan untuk menghasilkan suara “pukulan”, bukan lagi suara “petikan” seperti clavichord, diperkenalkan oleh B. Cristofiori pada 1709. Ia menamakan instrumen buatannya ini “cembalo” dengan piano (nada rendah) dan forte (nada tinggi), yang kemudian lebih popular dengan mana piano. Pada masa Beethoven, sistem pedal dikembangkan dan meteri senar sudah menggunakan kawat baja, gulungan kawat tembaga dan rangka besi. Pada masa yang sama, piano “upright” yang lebih sesuai dengan ruang modern juga dikembangkan di Amerika Serikat.

Bentuk piano dengan “bilah ketuk” (keyboard) ini telah mengalami kemajuan yang luar biasa berkat kemajuan teknologi elektronika dan informatika. Dengan kemajuan ini, instrument musik modern tidak mengandalkan akustik untuk menghasilkan suara, tapi diganti dengan berbagai perangkat elektronik rumit lainnya, seperti pre-amp, amplifier, dan loud speaker.

Suara yang dapat dihasilkan pun oleh sebuah instrumen dapat menjadi tidak terbatas dengan kemajuan teknologi ini. Sebut saja synthesizer dan sampler yang dapat menghasilkan ribuan kombinasi suara, termasuk suara-suara “aneh” yang hanya bisa didengar dalam film. Pembuatan dan perekaman karya musik pun, kini, bisa dilakukan “rumahan” dengan bantuan instrument sequencer, peralatan komputer dan teknologi Musical Instrument Digital Interface (MIDI).

Dengan kemajuan teknologi komputer dan informatika, saat ini sudah lumrah menyaksikan beberapa orang memainkan musik bersama di tempat yang saling berjauhan di dunia yang dapat disaksikan langsung dalam kanal tertentu dan dapat langsung direkam.

Selain instrumen musik, perangkat pemutar musik pun telah berkembang dan berubah bentuk dari sejak kemunculan pertamanya, mulai dari penggunaan piringan hitam, pita kaset, compact disk (CD), hingga berubah bentuk menjadi digital saat ini.

Pada 1887, piringan hitam pertama kali diperkenalkan oleh Charles Cros, yang kemudian disempurnakan oleh Emlie Barliner setahun kemudian. Sayangnya peralatan ini belum bisa berbunyi dengan sempurna. Barulah pada awal abad ke 20, Kevin Gerald bisa menciptakan piringan hitam yang dapat menghasilkan suara yang lebih baik dengan pemutar musik yang disebut phonograph yang diciptakan oleh TA Edison pada 1870.

Kemudian, di awal 1960an Philips memerkenalkan pita kaset sebagai media untuk menyimpan musik, yang juga memunculkan teknologi pemutarnya yang populer dengan nama tape recorder dengan berbagai bentuknya. Kejayaan pita kaset bertambah dengan diperkenalkannya Walkman dari Sony pada 1980an, sebuah pemutar pita kaset portabel yang menjadi salah satu benda yang “must have” pada waktu itu. Sayangnya daya tahan format ini tidak sebaik piringan hitam dan bisa “kusut” dalam pemakaiannya yang mengakibatkan kualitas suara menjadi berkurang.

Tahun 90an diperkenalkan teknologi pemutar musik digital audio tape (DAT) dengan 2 format: compact disk (CD) dan sejenis pita kaset dengan ukuran yang lebih kecil, namun memunyai kemampuan penyimpanan yang lebih besar. Jenis ini mulai tergeser oleh format digital saat ini yang mampu menghasilkan suara dengan kualitas yang hampir sama baiknya, namun tidak membutuhkan media penyimpanan yang besar. Berbagai format musik digital banyak ditemui saat ini, bersama dengan banyak ragam pemutarnya, termasuk telepon cerdas.

Tentunya masih banyak lagi teknologi di bidang musik yang menarik untuk diketahui, seperti berbagai teknologi yang digunakan untuk pertunjukan musik dan studio rekaman. Sebagian besar teknologi ini dekat dengan kehidupan sehari-hari, bahkan ada yang hampir setiap hari digunakan. Ini menunjukan bahwa teknologi, yang dihasilkan oleh berbagai disiplin keinsinyuran, sangat dekat dengan kehidupan manusia dan membuat hidup begitu menyenangkan.***

Aries R. Prima
Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment