Dari Redaksi : Insinyur Dan Air Bersih

Kekeringan tidak hanya menjadi bencana langsung bagi para petani yang mengandalkan air untuk tanamannya, tapi juga bagi masyarakat urban. Seperti tahun lalu, kemarau yang panjang membuat turunnya ketersediaan air baku untuk air bersih warga. Beberapa kawasan di Jakarta, misalnya, tidak bisa mendapatkan pasokan air bersih dari perusahaan penyedia air bersih. Bahkan, banyak rumah tangga, yang biasa mendapatkan pasokan dari air tanah, juga harus menerima kenyataan bahwa di tanahnya pun sudah tidak tersedia air.

Krisis air jangan lah dianggap sepele. Di masa depan, kelangkaan air, akan menyebabkan konflik yang luar biasa. Menurut data dari BPPT tahun 2000, ketersediaan air permukaan hanya cukup untuk memenuhi sekitar 23% kebutuhan penduduk. Defisit air di Jawa dan Bali sudah terjadi sejak 1995. Hal ini menjelaskan mengapa sering terjadi krisis air di beberapa daerah di Jawa dan Bali setiap musim kemarau tiba.

Pasokan air selalu menjadi kendala utama penyediaan air bersih di Indonesia. Sebagian besar PDAM mengandalkan air baku dari air sungai untuk memasok air ke rumah tangga dan industri. Padahal kualitas sungai dan air sungai telah mengalami penurunan kualitas dari tahun ke tahun akibat kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Apalagi keika musim kemarau panjang tiba, dipastikan ketersediaan air bersih untuk rumah tangga dan industri menyusut, bahkan terhenti.

Di masa mendatang, sangat tidak bijaksana untuk menggantungkan ketersediaan air bersih dengan mengandalkan air baku dari air sungai. Diperlukan inovasi teknologi untuk memberikan solusi dalam jangka panjang untuk memproduksi air bersih. Bukan hanya masalah distribusinya.

Para insinyur diharapkan mampu berperan dalam menghadang krisis dan konflik di masa depan dengan melakukan berbagai inovasi teknologi di bidang penyediaan air bersih untuk masyarakat. Salah satu teknologi yang sudah tersedia adalah Natural Treatment Plant (NTP) yang sudah banyak diterapkan di Jerman, yang menyadap air langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikannya ke hilir. Beberapa keuntungan teknologi ini adalah tidak digunakannya bahan kimia untuk mengolah air minum dan tidak diperlukan pompa distribusi, karena letak reservoir ada di daerah tinggi (pegunungan).

Karena urgensinya, maka Engineer Weekly di awal Maret ini menyajikan berbagai masalah, dampak dan solusi ketersediaan air di Indonesia dengan beberapa artikel yang ditulis oleh ahli di bidangnya. Apapun inovasi teknologinya, yang paling penting adalah bagaimana inovasi itu dapat diterapkan, menjadi solusi, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Selamat membaca.

Aries R. Prima

Pemimpin Redaksi

Next >>>

baca juga

ingin komentar

Comment