DARI REDAKSI : EPC, Keinsinyuran dan Pembangunan

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka lapangan pekerjaan, terutama bagi para insinyur nasional, pada kurun waktu 2015 -2019, pemerintah menganggarkan 5.519 triliun rupiah untuk membangun infrastruktur.

Tersedianya sejumlah insinyur yang dibutuhkan, menjadi prasyarat mutlak untuk melakukan pembangunan ini. Selain itu dibutuhkan pula kehadiran perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang Engineering, Procurement, and Construction (EPC) nasional yang tangguh, agar pembangunan dapat bermanfaat optimal bagi bangsa Indonesia. Apalagi dengan semakin banyaknya proyek-proyek besar yang berteknologi tinggi di Indonesia dan di ASEAN, terutama industri konstruksi sektor minyak dan gas bumi.

Proyek-proyek EPC lebih kompleks dari pada proyek konstruksi biasa. Proyek ini memiliki tantangan yang sangat besar, seperti fase overlaps dan saling ketergantungan antaraktivitas, rincian aktivitas yang sangat akurat, dan ketidakpastian dalam akurasi prediksi yang timbul selama proyek berlangsung. Tentunya juga masalah pembuatan anggaran dan jadwal pelaksanaan yang dapat menjamin tingkat efisiensi sebuah kegiatan atau proyek.

Pada proyek biasa, dikenal adanya struktur organisasi konsultan perencana, sub kontraktor, pemasok dan kontraktor yang berada di bawah koordinasi pemilik proyek (owner). Keunggulan struktur seperti ini adalah adanya pengkhususan tugas. Namun, pada pelakasanaannya, sering terjadi konflik antara perencana dan kontraktor, misalnya ketika menurut kontraktor desain yang dibuat oleh perencana terlalu boros. Belum lagi jika ada revisi desain yang menyebabkan berubahnya spesifikasi material. Maka itu muncullah istilah pemborong, yaitu kontraktor yang juga bertindak sebagai pemasok, yang dianggap lebih memudahkan koordinasi.

Kemudian, sesuai dengan perkembangan kebutuhan, proyek EPC mulai bermunculan. Pemilik proyek cukup menunjuk satu lembaga atau perusahaan untuk mewujudkan apa yang diinginkan dan proses perencanaan hingga konstruksi dilakukan oleh satu pihak, sehingga proses optimalisasi desain bisa dilakukan sepanjang masa proyek. Lebih cepat dan lebih efisien.

Pada kenyataanya, tidak semua perusahaan EPC yang ada, menjalankan ketiga proses tersebut. Ada yang hanya mengerjakan engineering saja dan ada juga yang hanya melakukan kegiatan engineering dan procurement. Selain itu, ada juga perusahaan EPC yang melakukan dua proses tambahan, yaitu commisioning dan installation. Perusahaan jenis ini disebut sebagai EPCCI company. Sebagian besar perusahaan EPC yang ada bergerak di bidang migas. Tapi ada beberapa BUMN menambahkan unit EPC yang bergerak di bidang konstruksi pembangkit listrik, seperti Divisi EPC PT PP, Wijaya Karya EPC dan Adhi Karya EPC.

Pada edisi kali ini, Engineer Monthly akan menayangkan berbagai artikel yang terkait dengan EPC dari para kontributor yang mempunyai pengalaman panjang di bidangnya, agar para insinyur mendapatkan gambaran yang utuh tentang hal terkait dan dapat menjadikannya sebagai referensi praktik keinsinyuran di masa mendatang. Tentu saja banyak sekali tantangannya. Namun itu bukanlah alangan yang menghambat.***

Aries R. Prima

Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment