DARI REDAKSI : Energi Panas bumi di Indonesia

Dengan populasi lebih dari 250 juta jiwa, Indonesia adalah pengguna potensial energi terbarukan terbesar di kawasan Asia Tenggara. Beberapa sumber energi terbarukan juga berpotensi dikembangkan untuk mencukupi kebutuhan energi negara kepulauan terbesar di dunia ini.

Posisi Indonesia yang berada di Cincin Asia Pasifik yang mengelilingi Samudera Pasifik, memberikan kelimpahan batuan yang mampu menampung panasbumi yang dapat digunakan sebagai energy terbarukan untuk menghasilkan listrik.

Untuk memanfaatkan energi ini, perlu adanya pengeboran sumur jauh ke dalam Bumi yang bias mencapai kedalaman 4 kilometer. Uap dari panas yang timbul dari dalam Bumi, setelah diberikan cairan sebelumnya, digunakan untuk menggerakkan turbin untuk menghasilkan listrik.

Energi panasbumi telah dimanfaatkan untuk pembangkit listrik di Italia sejak tahun 1913 dan di Selandia Baru tahun 1958. Saat ini panas bumi telah dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik di 24 negara, termasuk Indonesia. Di samping itu fluida panas bumi juga telah dimanfaatkan untuk sector non-listrik di 72 negara, antara lain untuk pemanas ruangan, pemanas air, pengeringan hasil produk pertanian, dan pengeringan kayu.

Indonesia adalah negara dengan sumber energi geotermal terbesar di dunia, sekitar 40 persen dari cadangan dunia, dengan lebih dari 200 lokasi yang berpotensi menghasilkan energi listrik sebesar 28.807 MW. Namun saat ini baru digunakan sekitar 5 persen, karena sebagian besar sumber energi tersebut terletak di hutan lindung dan kawasan konservasi yang dilindungi.

Pertama kali usaha pencarian sumber geothermal (panasbumi) di Indonesia dilakukan di daerah Kawah Kamojang pada 1918. Pada 1926 hingga 1929, lima sumur eksplorasi dibor, yang mana salah satu sumur tersebut hingga kini masih memproduksi uap panas kering (dry steam). Eksplorasi dihentikan sejak pecah perang dunia II dan perang kemerdekaan RI.

Pada 1972, Direktorat Vulkanologi dan Pertamina dengan dukungan dari Pemerintah Perancis dan Selandia Baru melakukan survey pendahuluan di Indonesia yang berhasil memetakan 217 prospek panasbumi di sepanjang jalur vulkanik, mulai bagian Barat Sumatera hingga Maluku. Survey lanjutan berhasil menemukan prospek baru, hingga menjadi 256 prospek.

Saat ini Indonesia merupakan produsen panasbumi terbesar ketiga di dunia, tersebar di tujuh area panasbumi di seluruh Jawa, Sumatera Utara dan Sulawesi Utara yang memproduksi energi listrik sebesar 1.439 MW.

Pembangkit listrik tenaga panasbumi hampir tidak menimbulkan polusi atau emisi gas rumah kaca, serta tidak berisik dan dapat diandalkan. Listrik yang dapat dihasilkan sekitar 90 persen, lebih tinggi dari pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang menghasilkan listrik sekitar 65 – 75 persen.

Energi panasbumi dapat dihasilkan terus menerus, karene terus dihasilkan melalui peluruhan zat radioaktif mineral yang ada di dalam bumi. Energi ini juga dapat dihasilkan sepanjang musim secara tetap, karena tidak memerlukan penyimpanan energi.

Kelemahannya hanya dari segi investasi. Modal untuk membangun pembangit listrik tenaga panasbumi sangat besar. Lokasi pengeboran pun tidak bias sebarangan, harus berada di sekitar lempeng tektonik yang memiliki temperatur tinggi yang dihasilkan oleh sumber panasbumi.

Melihat potensi, manfaat dan efek terhadap lingkungan, energy panasbumi adalah energy yang sangat ideal untuk dikembangkan di Indonesia, terutama untuk memenuhi kebutuhan akan energi listrik yang terus meningkat di Indonesia.***

Aries R. Prima

Pemimpin Redaksi

baca juga

ingin komentar

Comment