Biomimicry untuk Inovasi Produk Industri

Hari Agung Yuniarto, ST, MSc, PhD, IPU –
Staf Pengajar Teknik Industri UGM

Hari-hari ini kata ‘inovasi’ diyakini seolah seperti kata sakti yang membuat suatu produk (dan tentu pula, jasa layanan), hasil dari sebuah kegiatan industri, dipastikan mampu selalu diterima oleh konsumennya sehingga proses bisnis yang melingkupinya pun diyakini pula akan mampu bertahan berkelanjutan serta lestari. Sayangnya, fakta hari ini akan keyakinan di atas masih menyisakan adanya ketidakpastian dan ketidakberhasilan. New Coke – misalnya – yang gagal menggantikan minuman ringan saudara tuanya, Coke (atau, Coca Cola), di 1990an. Microsoft Zune yang ‘gatot’ kejar – apalagi saingi bahkan kalahkan – iPod nya Apple di tahun 2008. Motor Honda CS1 yang juga di tahun 2008 was badly beaten by sales of other Honda’s own models. Atau Toyota Nav1 di 2014, ataupun smartphone windows ‘Lumia’ dan sony ‘Xperia’ di tahun lalu, atau pula tak sedikit kegagalan penjualan produk-produk industri lainnya.

Adakah salah, dengan innovation? Tentu, tidak. Kegiatan itu, wajib adanya. Hanya, bagaimanakah kita meng-inovasi produk, di situ permasalahannya. Sudah jamak kita bisa paham dari banyak majalah ilmiah maupun populer tentang, what to adopt approaches to innovating products. Klein K, peneliti dari Kansas State University pada tahun 2009, menekankan pentingnya inovasi menggunakan pendekatan ‘alam’ ataupun ‘hal yang alami’ di dalam proses perancangan pengembangan sebuah produk karena jika tidak maka akan mudah dimengerti apabila produk tersebut hanyalah akan menjadi sebuah unsustainable design. Tidak akan mungkin sustain, bertahan. Karenanya, pendekatan biomimicry perlu mulai dipakai untuk meng-inovasi produk industri di tanah air.

Biomimicry dalam makna literal adalah ‘meniru kehidupan’, yang berasal dari bahasa Yunani bios (kehidupan) dan mimikos (tiruan). Oleh karena itu, pendekatan inovatif ini dilakukan dengan mempelajari sistem dan mekanisme serta aspek biologis yang dimiliki oleh alam ataupun mahluk hidup dalam mempertahankan dirinya terhadap lingkungan yang ada untuk kemudian pemahaman yang diperoleh tersebut diharapkan mampu menginspirasi proses perancangan produk (dan tentu pula, jasa layanan) industri yang lebih baik, yang reliable serta sustainable. Dengan kata lain, “Biomimicry refers to studying nature’s most successful developments and then imitating these designs and process to solve human problems. Biomimicry can be thought of as ‘innovation inspired by nature’ “, seperti yang dikatakan oleh Sean Kennedy pada tahun 2004, seorang peneliti dari Kanada. GeckskinTM hanyalah salah satu saja dari sekian contoh produk yang dikembangkan menggunakan pendekatan biomimicry dimana terinspirasi dari struktur kulit telapak kaki seekor reptil ‘gecko’ (tokek, dalam Bahasa Indonesia) yang kakinya mampu menempel kuat menahan beban tubuhnya di permukaan bidang sekaligus mudah pula dalam melepaskannya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun saat dibutuhkan ketika berjalan. GeckskinTM adalah produk bahan kain perekat tipis yang hanya dengan seukuran kartu nama saja bahan ini mampu menahan beban lebih dari 300 kg jika ditempelkan pada permukaan yang halus dan bersih dan kemudian mudah dilepaskan tanpa adanya residue apapun pada permukaan bidang tersebut. Produk biomimicry dimaksud diilustrasikan dalam Gbr 1. Contoh lain adalah prototype mobile Mercedes-Benz yang diluncurkan tahun 2005 dengan design of body ‘meniru’ ikan Boxfish seperti yang diperlihatkan oleh Gbr 2 yang mampu meminimalkan drag coefficient menjadi hanya 0,06 saja!


Penerapan Biomimicry dalam industrial design tentunya harus dimungkinkan oleh a multidisciplinary team of experts yang melibatkan para biologist, ahli ilmu kedokteran dan ahli ilmu hayati lainnya disamping pastinya para engineer. Tingkat penerapan biomimicry ada 3 seperti yang ditunjukkan oleh Gbr 3. Yang paling ‘sederhana’ (reductive biomimicry) adalah tingkat pertama yang disebut dengan mimicking of natural form. Pada tingkatan pertama ini, biomimicry diterapkan hanyalah untuk menyelesaikan permasalahan yang specific ada pada sebuah desain suatu produk tanpa memperhatikan pengaruh buruknya terhadap lingkungannya. Pada tingkatan kedua, mimicking of natural process, baik proses produksi maupun produk yang dihasilkannya ‘should not harm the nature’ (contoh GeckskinTM, ketika dilepas tidak meninggalkan bekas residue apapun yang bisa memberi pengaruh buruk ke lingkungan sekitar). Pada tingkatan yang ketiga yang disebut dengan mimicking of natural ecosystem ini, perancangan yang ‘kompleks’ (holistic biomimicry) harus memperhatikan tiap attribute perancangan yang ada sebagai sebuah bagian dari suatu sistem, sehingga pendekatan biomimicry pada tingkat ini memungkinkan diterapkan mulai sejak dari pemilihan bahan mentah produk dan kemudian proses pembuatannya hingga produk tersebut nantinya di-disposal dengan memastikan bahwa semua tahapan life-cycle tersebut harus ramah terhadap lingkungan. Jika perancangan produk didasarkan pada hal natural yang terdapat pada alam, sudah semestinyalah harus mampu ramah terhadap alam lingkungan dengan sendirinya. Pada tingkatan ini, biomimicry diaplikasikan untuk mampu menghasilkan eco-design.

Tentu, kita tidak harus terinspirasi dengan ‘hasil’ berupa produk-produk biomimicry seperti yang berhasil diproduksi para negara maju di atas. Tapi rasanya kita wajib harus mampu terinspirasi dengan ‘proses’ mereka mendekatkan biomimicry dalam berinovasi produk industri mereka. Sudah saatnya, IKM Indonesia kenal dan mulai adopsi biomimicry untuk produk inovatif ‘khas’ Indonesia!

An Innovative & unique product inspired by Wonderful Indonesia®.
Selamat berkarya.***

baca juga

ingin komentar

Comment