Berita Kegiatan : Berpacu Meraih Bintang Melalui Program Pembinaan Profesi Insinyur bersama PII dan IKATEK Unhas, 14 Mei 2016

Gedung Nindya Karya tepatnya Lantai 8 tempat diadakannya Program Pembinaan Profesi Insinyur (PPPI) kerjasama Ikatan Alumni Teknik Universitas Hasanuddin (IKATEK UH) dan Persatuan Insinyur Indonesia (PII). Memorandum of Understanding (MoU) kedua institusi ditandatangani dua tahun yang lalu yang salah satu agendanya adalah melaksanakan kegiatan ini. PPPI ini sudah dilakukan untuk ketiga kalinya di wilayah Jakarta dan sekitarnya oleh IKATEK UH dan akan terus dilaksanakan untuk semaksimal mungkin merekrut calon Anggota PII dari Alumni Universitas Hasanuddin.

Program ini dibuka oleh perwakilan dari IKATEK-UH yang juga adalah pengurus PII Pusat, Ir. Sapri Pamulu, Ph.D yang kesehariannya bekerja di PT Wiratman Indonesia dan pada kegiatan kali ini juga membawakan materi Etika Profesi dan Hukum Profesi Insinyur . Beliau menyampaikan PII sekarang ini adalah PII yang jauh lebih progresif lagi setelah dikeluarkannya UU Keinsinyuran No. 11 Tahun 2014 di mana PII dalam UU tersebut ditunjuk sebagai penyelenggara keinsinyuran di Indonesia. Tak lepas dari itu, secara external, penyetaraan internasional menjadi suatu keharusan dan untuk mewujudkan itu sistem pendidikan profesi insinyur dan sistem layanan keinsinyuran banyak mengadopsi dari apa yang sudah diterapkan di luar negeri. Bagian dari perlindungan Insinyur berprofesi keinsinyuran PII juga akan menetapkan sistem advokasi Insinyur secara baku dan penetapan professional indemnity insurance bagi setiap Insinyur yang sudah mendapatkan STRI.

Pengenalan sistem sertifikasi Insinyur, bakuan kompetensi dan tata cara pengisian Formulir Aplikasi Insinyur Profesional (FAIP) disampaikan oleh Ir. Habibie Razak pada kesempatan kali ini. Habibie dalam pemaparannya menampilkan contoh CV yang padat, lengkap dan komprehensif yang bisa dijadikan referensi untuk pengisian FAIP lebih cepat dan lengkap. Format CV yang mumpuni yang diupdate secara terus-menerus sangat bisa membantu pada kandidat Insinyur Profesional untuk mengisi FAIP mereka lebih cepat. Penentuan scoring pada FAIP yang diisi oleh kandidat Insinyur Profesional ini didasarkan pada tiga faktor yaitu: lamanya pengalaman atau kegiatan keinsinyuran yang diikuti, peranan dan tanggung jawab atau posisi Insinyur di kegiatan atau proyek itu dan kompleksitas atau tingkat resiko proyek atau kegiatan keinsinyuran yang diikuti.

Materi Sosialisasi UU Keinsinyuran, Profil Organisasi PII dan Penutupan PPPI kali ini dipaparkan oleh Ir. Rudianto Handojo. Beliau pada kesempatan ini menjawab pertanyaan dari seorang penanya yang merupakan alumni Sarjana Perkapalan, bahwa saat ini Perkapalan belum memiliki Badan Kejuruan Khusus terkait disiplin perkapalan. Teknik Perkapalan adalah berbeda dengan Teknik Kelautan karena disiplin ini lebih spesifik pada naval architect dan naval construction di mana para profesional di bidang ini banyak bekerja di Industri Galangan Kapal di Indonesia maupun luar negeri. Ir. Rudianto menjawab secara lugas bahwa BK/BKT Perkapalan ini sangat bisa dibentuk apabila sudah ada lebih dari 25 anggota PII yang kemudian berkumpul bersama dan menyatakan siap menjadi pengurus BK/BKT ini dan kemudian hasil risalah rapat dan dokumentasi pendukungnya diserahkan ke PII Pusat untuk disahkan. BK/BKT Perkapalan kemudian harus bisa menelurkan Insinyur Profesional Madya dan Utama yang selanjutnya akan mengikuti pelatihan Assessor dan kelak akan menjadi Majelis Penilai (MP) untuk kejuruan Perkapalan ini.

Berpacu meraih bintang tidak lain adalah berpacu meraih sertifikasi Insinyur Profesional yang mendapatkan pengakuan nasional maupun internasional. PII mengajak para Sarjana Teknik yang bekerja keinsinyuran untuk segera menjadi bagian dari PII dan teregistrasi menjadi Insinyur Profesional Indonesia.

Salam Insinyur, Bravo Persatuan Insinyur Indonesia

Reportase oleh: Ir. Habibie Razak – Sekretaris Bidang Distribusi Gas PII Pusat.

baca juga

ingin komentar

Comment