ANTARA RISET DAN INDUSTRI



Meskipun tidak setiap riset dasar dimaksudkan bermuara pada industri, orang sering membayangkan bahwa tahap-tahap pengembangan teknologi adalah: riset dasar – riset terapan – prototipe – industri. Sesudah riset dasar, riset terapan akan mengarahkan pengetahuan ke tujuan aplikasi. Sebagai contoh, ketika dari riset dasar terungkap bahwa beda tingkat energi dalam atom dapat dialihkan menjadi cahaya, maka melalui riset terapan, diwujudkan sinar laser yang memancar kontinu dengan daya tinggi.Mungkin sesudahnya diiinginkan alat baru yang memakai sinar laser, entah untuk mengukur jarak, atau mengukir permukaan besi. Dibuatlah prototipe guna menguji dan membuktikan bahwa rancangan berfungsi dengan baik. Apabila berhasil, diharapkan gerbang industri pun terbuka. Ini sesuai dengan anggapan: jika prototipe sukses, pengguliran menjadi produk industri niscaya beres.

Jembatan
Kenyataannya tidak semudah itu. Tahap pertama sampai prototipe biasanya dikerjakan oleh pihak peneliti. Kerap terjadi ketika hasil riset yang bagus diajukan, pihak industri menanggapi: “Bukan itu kebutuhan kami.” Orang lantas berpikir, kelihatannya ada masalah pada jembatan antara finalisasi penelitian dan awal pengindustrian. Maka lembaga intermediasi dibentuk. Karya riset disosialisasikan dan dipromosikan untuk diproduksi.

Sayangnya, letak persoalan bukan hanya di situ. Kalangan industriawan lazim berwaspada terhadap kelangsungan pasokan bahan baku, penyiapan mesin atau proses industri untuk prototipe bersangkutan, perhitungan titik impas, peluang pemasaran, atau ancaman risiko. Jelas berbeda dari kriteria yang dianut peneliti seperti kebaruan ilmu, ketangguhan prinsip ilmiah, atau kecanggihan metode sebagaimana yang dibuktikan dengan publikasi bergengsi.

Dengan rambu-rambu dan orientasi yang berlainan itu, biasanya sukar bagi lembaga intermediasi untuk mengakurkan peneliti dengan industriawan. Kalaupun ada saran kompromi ke arah modifikasi agar prototipe lebih layak diproduksi, timbul kebingungan, karena mungkin ternyata seperempat atau setengah pekerjaan riset mesti dilakukan lagi. Siapa yang membiayai ?

Di Indonesia, ada tambahan faktor kesulitan. Yaitu cenderung ada kesenjangan antara kegiatan dalam industri dan ilmu di perguruan tinggi. Pekerjaan yang dilakukan dosen untuk pabrik seringkali dinilai sebagai pengabdian kepada masyarakat, bukan penelitian atau pengembangan. Sebagai pembanding, guru besar pada universitas teknik di Jerman tidak sedikit yang datang dari industri. Penelitian di perguruan tinggi pun berhubungan sangat erat atau langsung diperuntukkan bagi industri.

Tentu perlu dicari jalan keluar untuk mulusnya hubungan antara dunia penelitian dan industri. Yang disarankan di sini, kemitraan antara komunitas peneliti dan kaum industriawan perlu sangat dipererat.

Persahabatan profesional
Kemitraan yang dimaksudkan bukanlah seperti di saat peneliti menawarkan hasil risetnya, tetapi harus dimulai sebelum pekerjaan penelitian dilakukan, sebelum proposal riset disusun, bahkan sebelum ide digagas. Maksudnya supaya sejak awal sekali, kedua belah pihak sudah sepakat dan mendalami topik riset yang dikerjasamakan. Sejak dini perlu diperkirakan atau dirancang keberlanjutan suplai bahan baku, penyiapan perangkat produksi dan arah pemasaran. Jika diperlukan modifikasi, sama-samalah secara berangsur diwujudkan. Rasa ikut memiliki niscaya dihayati, yang satu tidak merasa disodori mendadak hasil dari yang lain. Jika persahabatan profesional sudah terjalin, diharapkan pembiayaan pun bisa disetujui dan bersama diupayakan.

Skema yang berbeda dari ‘pakem’ sebelumnya perlu dipertimbangkan benar, supaya riset dan pengembangan di tanah air lebih bermanfaat, dan industri menjadi lebih kuat.

Download Journal


baca juga

ingin komentar

Comment